AL-IMAN

A . Jalan Menuju Iman

Bangkitnya manusia tergantung pada pemikirannya tentang hidup, alam semesta, dan manusia. Ketiganya berhubangan dengan sesuatu yang ada sebelum kehidupan dan yang ada sesudahnya. Kalau kita ingin mengubah tingkah laku manusia kita ubah dulu pemikiranny, dari ketiga unsur diatas bersifat lemah, terbadas, serba kurang, dan saling membutuhkan satu sama lain. Cintoh : manusia tumbuh dan berkembang, dari bayi, balita, remaja, dewasa, tua, dan meninggal. Jadi, segala yang terbatas pasti diciptakn oleh sesuatu yang lain. Sesuatu yang lain inilah yang disebut “AL-KHALIQ”, Dialah yang menciptakan ketiga unsure tersebut. Dalam menentukan keberadaan Pencipta ini akan kita dapati 3 kemungkinan:

  1. Ia menciptakan diri-Nya sendiri, kemungkinan ini bathil karna apa? Tidak mungkin dan mustahil, berarti Dia menjadi makhluk dan pencipta secara bersamaan.
  2. Ia diciptakn oleh yang lain, kemungkinan ini juga bathil. Karena dia diciptakan berarti dia itu makhluk karna sifat makhluk adalah ada yang menciptakan.
  3. Bersifat WajibulWujud (Wajibadanya). Inilah yang benar bahwa Allah itu wajib adanya.

Nah dari penjelasan diatas adalah bagaimana kita menuju IMAN itu dengan cara proses berfikir, apa itu berfikir? Berfikir adalah menghubungkan fakta yang terindera dengan pengetahuan sebelumnya yang tersimpan dalam otak. Dari arti berfikir bisa kita dapati 4 komponen berfikir:

  1. Adanya Fakta
  2. Panca Indera
  3. Pengetahuan sebelumnya
  4. Otak

B. Karakter Iman

Ada dua hal yang perlu dipahami ketika membahas masalah keimanan. Pertama, karakter iman; Kedua, karakter hati sebagaiwadah bersemaymnya iman. Iman mempunyai karakter yang fluktuatif, terkadang naik dan tinggi, tetapi terkadang juga turun dan rendah. “Iman itu bisa bertambah bisa berkurang, maka perbaharuilah imanmu dengan Laa Ilaaha Illallah.”(H.R. Ibnu Islam). Sedangkan hati sebagai wadahnya iman memiliki karakter terbolak-balik dan tidak tetap. Hati atau kalbu berasal dari bahasa Arab,, Qolbu. Qolbu sendiri berasal dari kata qolaba-yanqolibu-qolbun; yang artinya terbolak-balik. Maka Rasulullah saw. Pernah bersabda:

“Ya Allah, Wahai Zat Yang Maha Membolak-balikkan, tetapkanlah hatiku di dalam dien-Mu dan di dalam ketaatan pada-Mu.”

Dari kedua karakteristik di atas, iman dan hati, membuat kita tak pernah boleh yakin dan puas akan kadar keimanan kitayang kita miliki sekaran. Setidaknya tumbuh dua perasaan, harp dan cemas di dalam hati kita. Harapan agar kelak Allah mematikan kita dalam keimanan yang tinggi dan benar. Cemas dan takut kalau allah mematikan kita dalam kondisi keimanan sedang menurun.

C. Hakikat ImaHakikat Iman menurut ulama Ahlu Sunnah yaitu : mengikrarkan dengan lisan, membenarkan dengan hati, dan mengerjakan dengan anggota badan. Ketiga hal ini merupakan pergertian iman. Satu dengan yang lainnya tidak dapat dipisahkan. Iman adalah keyakinan dan amal.

Uyainah berkata tentang iman, ” Al iman, qaulun wa’amalun, yazidu wa yangqush.” Artinya: “iman, adalah ucapan dan perbuatan, kadang meningkat dan kadang menurun.” Iman bukanlah angan-angan. Melainkan apa yang tertanam menghujam di dalam sanubari dan dibenarkan oleh amal perbuatan. Bukan semata-mata teori, sebagai konsumsi otak, ynag sinarnya tidak sampai menembus hati dan tidak dapat menggerakkan tradah (keinginan). Iman juga bukan sesuatu yang menjejali ingatan dengan istilah-istilah seperti : rabb, ilah, dien, ibadah, tauhid, thagut, dsb. Lalu merasa bangga dan hebat karena sudah menguasai artinya. Hamper semua nash Al Quran dan Hadist selalu mengingatkan keimanan dengan amal.

“Orang-orang mukmin itu hanyalah mereka yang beriman kepada Allah dan rasul-Nya, kemudian mereka tak ragu sedikpun dan mereka berjihad dijalan Allah dengan harta dan jiwa mereka. Mereka inilah orang-orang yang benar/jujur.” (49:15)

Dari Anas bin Malik berkata Rasulullah saw. ” tiga golongan yang merasakan manisnya iman: (1) mencintai Allah dan rasul-NYa, melebihi dari kecintaan kepada yang lainnya, (2) mencintai orang lain hanya karena Allah dan (3) merasa benci kembali pada kekufuran setelah diselamatkan Allah, sebagaimana ia benci jika dilemparkan ke dalam neraka.” (H.R. Bukhari Muslim)

Imam Syabid Hasan al Banna berkata:

“datangkan kepadaku 12 ribu orang yang benar-benar beriman, agar kutundukkan pegunungan, kubelah samudera dari lautan, dan kubuka negeri-negeri bersam mereka.”

Keimananlah yang menjadi motivator manusia untuk melakukan perbuatan. Baik buruknya perbuatan manusia tergantung pada baik buruknya keimanan. Kondisi iman yang buruk akan menghasilkan yang buruk. Kondisi iman yang baik akan melahirkan perbuatan yang baik pula. Islam adalah agama yang berintikan keimanan dan perbuatan (amal). Keimanan itu merupakan akidah dan pokok. Amal itu merupan syariat dan cabang-cabangnya yang dianggap sebagai buah yang keluar dari keimanan serta akidah itu. Keimanan dan amal adalah akidah dan syariat, keduanya sambung menyambung, tidak dapat berpisah satu dengan yang lain. Keduanya seperti buah dengan pohonnya, seperti musabab dengan sebabnya atau seperti natijah (hasil) dengan mukadimah (pendahuluannya).

D. Mengapa Orang yang Beriman Beruntung

“sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman.” (Q.S. 23:1)

Allah menjanjijakn keberuntungan yang besar bagi orang-orang yang beriman dan bertakwa kepada Allah.

  1. Diberikn ganjaran surge yang abadi

    “Berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang beriman dan berbuat kebaikan bahwasany merekaitu akan memperoleh surge yang di bawahnya mengalir beberapa sungai.”(Q.S.2:25)

    Rasulullah bersabda, ” sesungguhnya tingkatan surga yang paling rendah ialah yang memiliki 80.000 pembantu dan 72 istri dan dibangunkan baginya kubah dari mutiara, permata, dan yakut seperti apa yang ada antara Al-Jabuyah dan Shan’a. “(Diriwaytkan At Tirmidzi)

    Didalam Mu’jam th Thabrany disebutkan dari perkatan Ibnu Umar r.a., dia berkata, “Rasulullah saw. Bersabda, ‘sesungguhnya istri-istri para penghuni surge itu sika bernyanyi di hadapan suaminya dengan suara yang paling merdu, yang sama sekali tidak pernah didengar oleh seorang pun. Di antara nyanyian ereka adalah: ‘Kami adalah wanita-wanita cantik yang menarik, istri orang-orang yang mulia. ‘Mereka memandang mata dengan penuh pesona. Di antara nyanyian mereka yang lain: ‘Kami adalah wanita yng hidup abadi dan tidak mati, kami dapat dipercay dan tidak membuat ketakutan, kami berdekatan dan tidak berjauhan.”

  2. Dilimpahkan ketenangan hati dan kebahagiaan hidup

    Kebahagian dan ketenangan sejati tak dapat diperoleh dengan harta, tempat tinggal, pakaian atauupun perhiasan. Tetapi kebahagiaan itu diperoleh dari dalam diri sendiri dan dari perasaan iman dan takwa kepada Allah. Karena Allahlah yang mengaruniai kebahigiaan. Karena itu beruntunglah orang yang bertaqwa dan beriman kepada Allah.

    “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal shalih mak Tuhan yang Maha Pengasih akan menanamkan dalam (hati) mereka rasa kasih saying.” (Q.S.19:96)

E. Iman dan Kebanggaan

“Jangan kamu merasa hina dan susah, kamu adalah orang-orang yang lebih tinggi kalu sekirany kamu benar-benar BERIAMAN.” (Q.S. 3:139)

Umat islam akan menjadi leih tinggi derajatnya ketika mereka beriman. Imanlah yang akam melepaskan ikatan manusia dengan hawa nafsu dan thagut. Hanya mengabdi kepada Allah swt. Dengan beriman kita menjadi umat yang merdeka. Ingat behwa kemerdekaan adalah bebasnya hati dari ikatan thagut dan hawa nafsu meski secara fisik diikat atau dipenjara. Sebaliknya manusia akan terus terjajah selama ia masih tunduk atas hawa nafsu dan thagut meski seara fisik ia adalah seorang raja. Iman di hati menjadi kebanggaan sekaligus menjadi syarat kejayaan uman. (Jundia)

F. Kisah Teladan

BUKANKAH ALLAH MAHA MELIHAT

Suatu hari, amirul mukmini Umar bin Khathab ra. Khulafaur Rasyidin kedua, melakukan inspeksi rutin seorang diri. Seperti biasa, ia mengamati perkembangn kondisi umat muslimin tanpa menunjukkan dirinya sebagai seorang amir (alias menyamar). Ia melalui suatu daerah perbukitan yang biasa digunakan untuk menggembalakan domba.

Umar berbetemu dengan seorang anak yang sedang menggembalakn domba-domba yang jumlahnya cukup banyak. Uamr bertanya, “domba0domba milik siapakah ini?” Anak itu kemudian menyebutkan nama majikannya dan ia menceritakan bahwa sehari-hari ia biasa menggembalakan domba sejak pagi lalu soreny domba-domba tersebut dikembalikan ke kendangnya. Umar bertanya, “kelihatannyadomba ini begitu banyak, apakah pemiliknya mengetahui jumlah domba-domba yang dimilikinya?” Anak itu menjawab, “Tidak, dia tidak mngetahuinya dan tidak terlalu memperhatikannya.” “kalau begitu, bagaiman kalu aku beli saja domba ini seekor saja”, kata Umar sambil menyebutkan jumlah uang yang akan dia berikan kalau domba itu boleh ia beli (harga yang ia tetapkan cukup mahal, entah berapa kalau dihitung dengan kurs rupiah). Anak itu berkata, “Tidak bisa! Saya belum memberitahu majikan saya!” Umar berkata, “Bukankah kalau hanya hilang satu domba saja dari sekian banyak dombaini tidak akan diketahui oleh majikanmu. Sudahlah, jual saja domba itu kepadaku dan uang hasil penjualan bisa engkau pakai sendiri! Bagaiman?” Anak itu berkata, “Lalu, kalau begitu Allah dimana? Bukankah Allah Maha Melihat! Tidak, aku tidak akan menjualnya!” umar pun tersenyum ketika mengetahui kejujuran anak tersebut. Lalu ia pergi.

Esok harinya, anak gembala tersebut dipanggil untuk menghadap Amirul Mukminin. Alangkah kagetnya anak itu ketika ia melihat ternyata orang yang ia temui kemarin adalah seorang amir. Pemimpin kaum muslimin. Hari itu, Umar menghadiahkan kepada gembala itu sejumlah uang seharga seekor domba atas kejujuran anak tersebut.

G. Rukun Iman

Rukun Iman merupakan basis konsepsiona atau landasan edeal yang mendasari pemikiran, ucapan dan tindakan seorang muslim. Arinya: seorang muslim yang beriman maka pemikiran, ucapan dan tindakannya tidak akan bertentangan dengan keimannanya kepada Allah, Malaikat, Kitab, Rasul, Taqdir dan Kiamat. Orang yang beriman haruslah beriman kepada enam rukun iman. Lihat Q.S. 2:285, dan Hadits. Ketika Nabi ditanya Malaikat Jibril tentang Iman, maka jawab Nabi: “Hendaklah engkau beriman kepada Allah, kepada MalaikatNya, kepada Kitab-kitabNya, kepada Utusan-utusanNya, kepada Hari Kiamat dan hendaklah engkau beriman kepada Qadar yang baik dan yang buruk” (HR. Muslim). Maka barangsiapa yang mengingkari salah satunya maka ia telah mengingkari seluruh Rukun Iman.

Adapu penjabaran dari pelaksanaan rukun iman tersebut yaitu:

  1. Iman kepada Allah swt. Konsekuensinya yaitu: : mencintai Allah swt (QS. 2:165). Tanda-tandanya: lihat (QS. 8:2). Akibatnya: ikhlas dalam menjalankan perintah-perintah Allah.
  2. Iman kepada malaikat (QS. 50:16-18). Konsekuensinya: tidak mungkin seoran mukmin berbuat maksiat karena selalu ditongkrongi malaikat.
  3. Iman kepada kitab-kitab (QS. 2:1-3). Konsekuensinya: menjadikan Al Quran sebagai pedoman hidup.
  4. Iman kepada nabi dan rasul (QS. 33:40). Konsekuensinya: mencintai dan mengikutinya (3:31-32).
  5. Iman kepada hari akhir (QS. 3:185). Konsekuensinya: mempersiapkan diri untuk menghadapinya.
  6. Iman kepada takdir (QS. 22:7). Konsekuensinya : berprinsip bahwa “janganlah kita mempersoalkan apa-apa yang Allah ingin lakukan terhadap kita, tetapi kita harus melakukan apa-apa yang Allah ingin dari kita.”

About Rizal

"Don't Shy To Try"
This entry was posted in religion. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s